Sengkarut Sang Singa Terbang

 

Duka mendalam datang menyergap dunia penerbangan Indonesia. Pesawat Lion Air JT-610 yang mengangkut 189 orang jatuh pada Senin (29/10/2018). Pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 ini jatuh di perairan seputar Karawang, Jawa Barat, tak lama setelah lepas landas dari Jakarta menuju Pangkalpinang.

Apa yang dialami pesawat Lion Air ini adalah kecelakaan terparah kedua dalam sejarah penerbangan Indonesia yang terjadi di tengah membaiknya rekor keselamatan, begitu menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Insiden ini sangat mengejutkan karena catatan kecelakaan pesawat di Indonesia tengah menurun drastis,” kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono.

Sementara itu, publik Indonesia juga disuguhi berita performa pesawat yang kini dimiliki Lion Air yang berjumlah sekitar dua ratusan tersebut. Tahun lalu, regulator penerbangan Amerika Serikat (AS) menarik kembali mesin pesawat jet Boeing 737 MAX karena terdapat beberapa masalah. Kondisi ini membuat Boeing harus menunda pengiriman Boeing 737 MAX yang semestinya bisa dilakukan pada Mei 2017. Harga yang dibanderol untuk pesawat tersebut, sekitar 110 juta dolar AS.

“Boeing dan pembuat mesin CFM International harus menyerahkan data ke Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). Mereka harus meninjaunya dan memastikan bahwa mesin tersebut aman untuk penerbangan,” ujar juru bicara CFM International, Jamie Jewell, seperti dikutip Reuters, pertengahan bulan Mei tahun lalu.

FAA memberikan sertifikasi mesin untuk Boeing 737 MAX pada Maret 2017. Namun, pada pekan lalu, FAA menemukan masalah pada mesin tersebut sehingga perlu dilakukan peninjauan lebih lanjut.

Sementara itu, pihak Boeing menyatakan, pengiriman Boeing 737 MAX akan tetap dilakukan sesuai jadwal. Mereka telah menghentikan penerbangan uji coba 737 MAX karena masalah kualitas di beberapa cakram turbin tekanan rendah di mesin atau yang dikenal sebagai LEAP-1B. Jewell mengatakan, cakram yang terbuat dari nikel tersebut memiliki cacat dari proses penempaannya sehingga bisa berpotensi menimbulkan retak.

Meski hanya beberapa cakram saja yang mengalami cacat, FAA tetap harus melakukan pemeriksaan terhadap semua mesin LEAP-1B demi keamanan penerbangan. Mesin tersebut diklaim akan dikirim ke fasilitas CFM di AS dan Perancis untuk inspeksi dan perbaikan.

CFM International merupakan perusahaan patungan antara General Electric Co dan Safran SA dari Perancis. Boeing mengirimkan 737 MAX pertama ke Malindo Air Malaysia. Adapun Lion Air memiliki 218 pesawat Boeing jenis baru ini, dan secara keseluruhan memesan 238 unit.

Atas beredarnya berita tersebut, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak Boeing untuk memberikan penjelasan komprehensif atas kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 karena Boeing 737 MAX 8 yang dirilis pada Agustus 2018, baru mempunyai 900 jam terbang. “Adakah cacat produk dari jenis pesawat tersebut sehingga bisa menyebabkan kecelakaan pesawat? Pesawat baru dirilis pada Agutus 2018,” demikian pertanyaan tertulis YLKI yang disebar ke berbagai media, Senin (29/10/2018).

Di sisi lain, berdasarkan investigasi Detik.com, Lion Air mengakui pesawat bernomor PK-LQP yang jatuh saat terbang di rute Jakarta-Pangkalpinang sempat bermasalah pada malam sebelumnya di Denpasar. Penumpang Lion Air yang naik pesawat dari Denpasar menceritakan masalah teknis tersebut. Namun, belakangan diketahui pesawat yang dinaiki si penumpang berbeda dengan pesawat yang jatuh.

Penumpang itu bernama Conchita Caroline. Conchita naik pesawat Lion Air yang ternyata bernomor registrasi PK-LJJ (sebelumnya diduga PK-LQP) rute Denpasar-Jakarta pada Minggu (28/10/2018) malam. Namun, berdasarkan pemberitaan bbc.com, pesawat itu adalah pesawat yang sama.

Sebelum jatuh di perairan sebelah utara Karawang, pesawat Lion Air mengalami masalah instrumen pada penerbangan Minggu (28/10/2018) malam, sebagaimana tercantum dalam catatan teknis penerbangan yang diperoleh BBC. Dalam penerbangan malam sebelumnya rute Denpasar-Jakarta, pesawat Boeing 737 MAX 8 itu menggunakan kode penerbangan JT-43, dan untuk penerbangan berikutnya, Jakarta-Pangkalpinang, pesawat yang sama menggunakan kode penerbangan JT-610.

Catatan teknis pesawat nomor penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng menyebutkan data kecepatan pesawat saat mengudara pada instrumen kapten pilot tidak dapat diandalkan. Data ketinggian yang tertera pada instrumen kapten pilot dan kopilot berbeda.

“Teridentifikasi instrumen CAPT (kapten) tidak dapat diandalkan dan kendali diserahkan ke FO (first officer/kopilot). Kecepatan udara NNC tidak dapat diandalkan dan ALT tidak cocok,” sebut catatan penerbangan JT-43.

Meski demikian, kru pesawat memutuskan untuk meneruskan penerbangan dan mendarat dengan aman di Cengkareng. Keesokan paginya, pesawat tersebut memakai nomor penerbangan JT-610 guna melayani rute Jakarta-Pangkalpinang.

Imbas ke Ekonomi

Secara terpisah, Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait, mengakui memang ada kendala teknis dalam penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng pada Minggu (28/10) malam. “Namun, kami tegaskan, pesawat dalam keadaan layak terbang, sudah diperiksa para insinyur kami. Memang ada laporan mengenai masalah teknis, dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai prosedur maintenance yang dikeluarkan pabrikan pesawat,” kata Edward dalam jumpa pers di Bandara Soekarno Hatta, Senin (29/10/2018).

Pesawat dengan registrasi PK-LQP jenis Boeing 737 MAX 8 tergolong sangat baru. Pesawat ini selesai dibuat tahun 2018. “Kami menerima pesawat itu dari Boeing pada 13 Agustus 2018, dan mulai mengoperasikannya secara komersial pada 15 Agustus 2018,” tambahnya.

Pesawat itu diterbangkan kapten pilot Bhavye Suneja dengan copilot Harvino bersama enam awak kabin dan tiga pramugari yang sedang menjalani pelatihan. “Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan kopilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang. Keduanya adalah penerbang yang sangat berpengalaman, juga dalam menerbangkan pesawat ke luar negeri seperti ke Cina dan Timur Tengah,” kata Edward pula.

Akankah insiden kecelakaan ini berbuntut panjang, terutama dengan ditariknya seluruh armada pesawat terkait untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut? Apa pun bisa saja terjadi, bahkan tak menutup kemungkinan jika ada masalah dan faktor kelalaian yang akan menyeret manajemen puncak Lion Air. Pendiri Lion Air, Rusdi Kirana, kini menjabat sebagai Duta Besar Malaysia.

Imbas lanjutan dari kecelakaan ini dikhawatirkan akan memukul ekonomi nasional, terutama dari sisi investasi. Apalagi, berdasarkan laporan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), hasil realisasi investasi kuartal III/2018 mengalami penurunan sebesar 1,6% dibandingkan pada kuartal III/2017.

Menurut BKPM, total investasi menjadi Rp 173,8 triliun pada kuartal III/2018. Dari jumlah tersebut porsi penanaman modal asing (FDI) tercatat Rp 89,1 triliun atau turun 20,2% dibandingkan dengan periode sama 2017 yang tercatat sebesar Rp 111,7 triliun. Sementara penanaman modal dalam negeri naik menjadi Rp 84,7 triliun atau naik 30,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 64,9 triliun.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan karena pemerintah tengah sangat mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu pos pendulang valas demi kuatnya mata uang rupiah.

Citizen Daily

Gustav Perdana 111 Articles
Analis bisnis di beberapa perusahaan media dan non-media yang berpengalaman menulis politik, bisnis, dll. Alumnus Ekonomi Manajemen Universitas Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


two × 2 =