Konflik Papua, Harus Segera Diselesaikan Hingga ke Akarnya

 

Penembakan terhadap belasan pekerja proyek jembatan trans Papua beberapa waktu lalu menggemparkan publik Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 2 Desember 2018. Sehari sebelumnya, pekerja PT Istaka Karya yang mengggarap proyek trans Papua memang “diliburkan” karena pada hari itu sebagian orang memperingati hari kemerdekaan Papua.

Kelompok bersenjata mencurigai pekerja yang mengabadikan momen peringatan tersebut, seperti dituturkan Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi. Mereka lalu mendatangi tempat tinggal atau kamp pekerja PT Istaka Karya. Tangan para karyawan diikat dan digiring menuju kali Karunggame. Keesokan harinya, dituturkan Aidi, para pekerja tersebut ditembaki. Sebagian meninggal dan sebagian lainnya tergeletak pura-pura mati.

Berdasarkan laporan awal, jumlah korban penembakan sebanyak 31 orang. Namun, setelah proses penyidikan berjalan, jumlah korban dipastikan 20 orang, terdiri atas 19 pekerja dan 1 orang tentara. Sampai sekarang pelaku penembakan belum ditangkap, kendati aparat sudah menduga identitasnya.

Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, menyebut pelakunya diduga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya. Tito juga menyebut Egianus punya 50 orang anak buah dan memiliki 20 senjata api. Egianus adalah sempalan dari kelompok Kelly Kwalik, komandan sayap militer Operasi Papua Merdeka (OPM) yang tewas saat operasi penyergapan pada 2009.

Kekuatan KKB tidak bisa dipandang sebelah mata. Pengamat teroris Sidney Jones mengatakan, Egianus dan anak buahnya terkenal militan dan kebanyakan masih berusia belia. Egianus diketahui pernah membuat keributan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak, Juli lalu. ”Orang-orang ini muda dan lebih militan,” kata Sidney, seperti dikutip BBC.com.

Polri dan TNI diharapkan dapat menangkap Egianus dan anak buahnya dalam keadaan hidup agar mendapatkan informasi mendetail terkait jumlah dan keberadaan anggota OPM serta dari mana mereka memperoleh senjata lengkap tersebut. Menurut Sidney, dalam memburu KKB ini diperlukan kehati-hatian. Pasalnya, ini bisa berdampak pada rakyat sipil yang menjadi korban. Jangan sampai rakyat sipil yang menjadi korban penembakan karena pencarian KKB.

Ada 20 senjata standar militer yang digunakan KKB untuk melancarkan aksi mereka. Lalu, dari mana mereka mendapatkan senjata tersebut? Ada dugaan bahwa senjata tersebut didapat dari rampasan anggota TNI dan Polri yang berjaga di Pos Pengamanan. Ada pula dugaan bahwa senjata tersebut berasal dari sisa konflik Ambon, beberapa waktu lalu.

Beberapa senjata yang dimiliki KKB antara lain M-16 dengan peluru kaliber 5, 66 mm. Senjata tersebut efektif ditembakkan pada jarak 500-800 meter. Selain itu ada pula senjata AK-47 dan AK-74 yang lazim dijumpai di negara-negara konflik.

Selain dari rampasan dan sisa konflik Ambon, KKB diduga mendapatkan senjata dari Papua Nugini. Senjata tersebut masuk ke Papua secara ilegal. Namun, perlu menjadi catatan bahwa senjata tersebut bukanlah berasal dari pemerintah Papua Nugini.

Pemberontak Paling Berbahaya

Tito mengakui bahwa memburu Egianus dan anak buahnya  bukan pekerjaan mudah. Bukan hanya karena usia muda, mereka juga memiliki fisik tangguh dan menguasai medan. ”Mereka menguasai medan, fisik mereka juga terbiasa di daerah ketinggian,” kata Tito, seperti dikutip Merdeka.com.

Diperkirakan ketinggian perbukitan Papua tempat persembunyian KKB mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Menurut Tito, medannya memang cukup berat, vahkan anggota kepolisian pernah mengalami kesulitan menembus wilayah penyanderaan KKB.

Egianus adalah salah satu pimpinan pemberontak Papua paling berbahaya. Selain diduga sebagai dalang penembakan pekerja Istaka Karya, Egianus juga adalah pelaku penculikan 15 guru dan tenaga kesehatan di Mapenduma, Nduga, distrik di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Penyanderaan tersebut berlangsung selama 14 hari pada Oktober 2018.

Egianus juga diduga menembaki pesawat Twin Otter Trigana Air yang ketika itu disewa oleh Brimob Polri yang sedang bertugas mengamankan pilkada. Akibat insiden tersebut dilaporkan dua orang terluka.

Selain Egianus, ada dua pemberontak lain yang dinilai paling berbahaya, yaitu Leo Yogi yang berhasil ditangkap pada 2015 oleh aparat gabungan Polres Nabire. Pimpinan pemberontak lain yang dinilai berbahaya adalah Timika Wonda, yang tertembak mati oleh aparat pada 2014. Timika Wonda dan anak buahnya ketika itu dianggap berbahaya dan meresahkan warga karena kerap menembaki warga sipil ataupun militer, terutama mereka yang tidak bersimpati pada perjuangan OPM.

Pemerintah Harus Sigap

Pemerintah harus segera dapat merampungkan konflik ini sebelum merembet ke persoalan lain. Pasalnya, peristiwa sudah meresahkan, terlebih lagi kini adalah tahun politik dan menjelang pemilihan presiden (pilpres). Kelompok bersenjata tersebut tentunya bisa jadi mengancam berlangsungnya pilpres. Sebagai catatan, mereka pernah melakukan pemberontakan saat pilkada serentak Juni lalu.

Sejauh ini pemerintah telah mengimbau Egianus dan anak buahnya untuk menyerahkan diri. TNI menjamin tidak akan ada baku tembak atau kerusuhan yang terjadi di wilayah mereka bila mereka menyerahkan diri.

Konflik Papua bukan sekadar ketidaksetujuan mereka terhadap pembangunan Trans Papua, tetapi juga persoalan sejarah bergabungnya Papua ke Indonesia pada masa lalu, selain pelanggaran HAM di masa lalu yang sampai sekarang belum juga tuntas. Jadi, pekerjaan pemerintah bukan sekadar mengamankan kondisi demi keberlangsungan pemilu, tetapi juga menyelesaikan akar masalah dari konflik menahun ini.

Citizen Daily

Fadila Fikriani 60 Articles
Fadila Fikriani berpengalaman menjadi jurnalis untuk Jawapos dan Prioritas, dan dan menulis masalah politik, ekonomi, hukum. Lulusan S2 dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jurusan Media dan Studi Budaya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


7 + one =